Ngomomg-ngomong soal anak remaja, memang perlu hikmat khusus untuk menanganinya. Dikerasin, salah, dilepasin juga salah. Terus, gimana,dong?
Sekalipun sulit, kalau sudah berani menikah, ya harus berani punya anak, dan bertanggung jawab untuk mengasuh dengan baik.Sebab kalau ngagak, akan berurusan dengan yang menciptakan anak itu sendiri, yaitu Tuhan. Sebab Tuhanlah yang menitipkan anak itu pada kita , untuk mengasuhnya dengan benar sampai dewasa dan mandiri.Makanya, sebagai orang tua, kita tidak boleh berhenti belajar, mau mengikuti perkembangan zaman. Supaya tidak terjadi kesenjangan/ "gap" yang terlalu jauh antara kita dengan anak. Apalagi anak remaja zaman sekarang ini. Kalau kita tidak bijak dalam menangani, wah bisa-bisa kita malah kehilangan dia.
Sewaktu masih balita, mungkin masih manis-manis, selalu menuruti apa yang kita mau.Setiap kali , si balita melaporkan apa yang sedang terjadi, apa yang sedang diperbuat. Tapi, setelah remaja, kebiasaan itu sudah tidak ada lagi.Bahkan sekalipun ditanya, kadang-kadang tidak mau menjawab. Bahkan bisa ekstrim, tidak mau ditanya, karena sudah merasa besar. jadi di tidak mau orang tuanya terlalu ikut campur tangan.Karena dia merasa tidak dipercaya. Atau memang masanya semua remaja seperti itu?
Sebaiknya bangun jembatan yang baik antara orang tua dengan anak. Coba berpikir seperti yang anak pikirkan, coba rasakan apa yang anak rasakan.
Orang tua harus bisa menjadi sahabat anak. Sehingga tidak ada jarak yang terlalu jauh antara anak dengan orang tua.
Nah, kalau hubungan kita dengan anak baik, kita saling percaya, kemungkinan besar anak akan dengan bebas bercerita dengan orang tua.
Sekali lagi, itu bukan usaha yang ringan. Perlu kerja sama yang baik antara papa dan mama. Keduanya harus sepikir, setujuan. Supaya maksud baik itu tercapai.
Selasa, 14 Juli 2009
ANAK REMAJAKU KOK TERTUTUP, YA?
Kamis, 27 November 2008
Suka duka punya anak remaja
Pada kebanyakan dari kita, saat punya bayi, merasa sangat senang, tetapi repotnya juga minta ampun banyaknya. Sering orang berpikir bahwa punya anak yang masih bayi, adalah masa yang paling merepotkan.Apakah benar begitu ?
Sepertinya semua tenaga dan pikiran, termasuk uang dicurahkan untuk si baby.Sering orang berpikir, seandainya anak ini cepat besar, mungkin kerepotan akan segera berkurang. Eh, ternyata pikiran tersebut tidak semuanya benar.
Dengan bertambahnya usia anak, maka si anak juga memasuki fase kehidupan yang berbeda, yang tentunya juga sangat membutuhkan perhatian dari orang tua. Kita sebagai orang tua sebaiknya mengetahui kebutuhan anak sesuai dengan fase perkembangannya, meliputi kebutuhan jasmani, kebutuhan jiwani dan rohaninya.
Ada seorang Ibu yang menceritakan pengalamannya , seperti ini :
" Pada waktu anak saya berusia di bawah 12 tahun, termasuk anak yang manis, menurut apa kata orang tua, di sekolah juga termasuk anak yang disenangi teman maupun gurunya. Prestasi akademis maupun non akademis selalu menonjol, di atas rata-rata.
Tapi betapa kagetnya saya, pada saat anak saya masuk SMP kelas 2, sekitar umur 13 tahun, sikapnya mendadak berubah. Mulai menunjukkan sikap membantah, memberontak, berbicara dengan nada keras kepada orang tua. Orang tua ngomong baik-baik, eh dianya membentak. Sekalipun beberapa teman sudah mengingatkan "siap-siap kaget punya anak remaja". Tapi masih shock juga, karena sangat berbeda dibanding sebelumnya.Kami tidak pernah membentak ataupun bicara dengan nada keras."
Mungkin cukup banyak orang tua yang mempunyai pengalaman seperti yang diceritakan oleh Ibu di atas
Ada cukup banyak buku-buku yang membahas tentang anak dan remaja, yang bisa dipakai sebagai bekal ilmu dalam mengasuh anak. Sebagai orang tua sebaiknya lebih banyak belajar mengenai pola asuh anak, supaya lebih mengerti bahwa masa remaja adalah masa peralihan seorang anak menuju dewasa, masa pencarian jati diri.Di masa ini, anak memiliki energi yang sangat besar, sepertinya tidak pernah merasa lelah.
Sebagai orang tua, sebaiknya menjadi wadah dan menjadi fasilitator agar energi besar si anak disalurkan pada sasaran yang tepat. Artinya, dukung anak untuk melakukan kegiatan yang positif dan bermanfaat.